a piece of mind of a sweet ordinary girl who likes to giggle and cuddle

Text

Bisakah kamu bekerja tanpa hati?

Bagi sebagian orang, bekerja hanya masalah uang dan kenyamanan. Tapi buat aku pribadi, bekerja bukan hanya sekedar itu. Tanpa hati, tidak ada antusiasme, tanpa antusiasme tidak ada semangat, tanpa semangat tidak  ada pencapaian, puaskah hidup tanpa pencapaian?

Menurutku, tanpa mengajak hati dalam bekerja, manusia tidak jauh berbeda dari robot. Dingin. Tanpa nyawa. Asal tugas selesai. 

Kita semua punya kelebihan dan keunikan. Bukankah akan sangat menyenangkan kalau kita bisa bekerja sesuai dengan kelebihan dan keunikan kita masing-masing?

Bekerja biasanya menghabiskan sepertiga dari waktu kita dalam sehari. Aku tidak rela menghabiskan sepertiga waktu dalam setiap harinya mengerjakan sesuatu yang tidak sejalan dengan kata hati tanpa tujuan yang benar-benar berarti.

Buku nya Rene si Career Coach “Your Job is not Your Career” dan “Ultimate U” benar-benar menyentil hati, membuatku tersentak, and tell this to myself: hey I am not on the right track!

“I did not pursue 18 years of study just to be an assistant for the rest of my life. Doing tiny stuffs for the sake of other nations’ good”

If you only live once and time is so precious, why waste them all doing the things you don’t love?

Now I understand what my mom told me years ago:

“The enemy of a great life is a good life”

Text

http://www.klinikdrtiwi.com/dr-tiwis-friends/74.html

Stres, Cinta dan ASI

Reza Gunawan – Praktisi Penyembuhan Holistik (Tulisan ini  adalah salah satu tulisan dalam buku BEDAH ASI yang dikeluarkan IDAI)

Anak yang tumbuh sehat, cerdas dan bahagia. Itulah cita-cita, doa dan harapan setiap orang tua.  Berbagai upaya, cara, metode dan strategi ditempuh untuk memaksimalkan proses tumbuh kembang anak.  Namun pada saat yang sama, terdapat juga berbagai tantangan, kerumitan yang sulit terantisipansi, bahkan di abad modern ini agaknya mengasuh anak dengan arif dan baik justru terlihat semakin sulit.

Adakah mungkin yang terlewat di tengah segala detil yang perlu diperhatikan? Maukah kita sejenak merenungkan dimanakah titik awal dari anak yang berbahagia?  Mungkinkah syarat utama dari anak yang bahagia, sebenarnya bermula dari orangtua yang bahagia?

Barangkali ini benar, dan seandainya memang demikian muncul pertanyaan mengapa sebagian besar informasi yang bisa diperoleh tentang tumbuh kembang anak malah tidak meluangkan cukup perhatian pada bagaimana orangtua bisa berbahagia?  Bukankah itu prasyarat agar anak bisa belajar untuk berbahagia dalam hidupnya?

Terlalu Fokus Ke Anak, Diri Terbengkalai

Ingatkah Anda tentang instruksi sebelum pesawat terbang akan lepas landas, yang menjelaskan prosedur keselamatan bagi mereka yang pergi bersama anak kecil?  Kita senantiasa diingatkan jika masker oksigen turun, kenakan alat tersebut pada diri sendiri sebelum memasangnya pada anak kecil di sebelah kita.  Relakah kita untuk berhenti sejenak dan menghayati filosofi di balik anjuran ini?

Dengan rendah hati saya mohon izin untuk meminjam perhatian Anda sejenak.  Atau lebih tepatnya mengalokasikan perhatian yang sebagian besar biasanya berpusat pada anak Anda, menjadi mulai memperhatikan diri Anda sendiri.

Bagaimanapun juga, kita tidak bisa bermanfaat bagi orang lain sebelum menolong diri sendiri.  Entah mengapa, prinsip sederhana ini kerap terabaikan oleh para orangtua yang kerapkali melupakan dirinya dan keselarasan hidupnya.

Oleh karena itu, saya ingin memulai pembahasan tentang bagaimana kita, terutama para orangtua, bisa tercuri kebahagiaannya.  Mungkin jika kita siap merunut sejauh ini, maka mungkin kita bisa mencetus suatu kesadaran baru dalam mengelola tumbuh kembang anak yang lebih realistis, sederhana dan bijaksana.

Sulitnya Mengelola Pencuri Kebahagiaan

Ketika kita menengok lebih jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, umumnya kita akan menemukan sebuah kata menarik yang jarang kita renungkan, namun kerap dialami semua orang. Kata tersebut adalah “Stres”.

Akrab, lazim, namun jarang dipahami secara total.  Kemanakah jari Anda menunjuk, ketika ditanya dimana letaknya stres bagi Anda?

Sebagian orang akan menunjuk ke kepala dan otak, dimana seringkali muncul berbagai rasa kuatir, pikiran yang enggan diajak beristirahat, hingga seolah kesibukan roda pikir menjadi kebanggaan, atau bahkan simbol pembuktian bahwa diri kita produktif dan sukses.  Sebagian orang lain akan menunjuk ke dadanya sebagai perwakilan dari rasa tidak bahagia yang bermacam-macam jubahnya, baik sedih, kecewa, frustrasi, marah, kuatir, duka, dan rasa letih karena mengejar ambisi secara ngoyo’.

Saya rasa menjadi orangtua pun merupakan kondisi hidup yang juga menggiring kita untuk menghadapi pasang surutnya stres, terutama dengan sederet target yang kita pasang bagi anak tercinta, dan semuanya harus dicapai dengan hasrat kesempurnaan.  Sungguh beban yang luar biasa!

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Simonton menunjukkan bahwa stres bukanlah suatu beban yang muncul akibat peristiwa tertentu yang terjadi dalam hidup kita, namun beban yang muncul akibat ketidakmampuan kita untuk menghadapi dan mengelola diri ketika suatu perubahan hidup terjadi.

Jadi stres adalah fenomena tidak adanya ketrampilan untuk mengelola tubuh, jiwa dan pikiran kita.  Ini tentunya menjadi sudut introspeksi karena seringkali dengan mudah kita menuding kepada pihak tertentu atau peristiwa tertentu sebagai “penyebab” stres kita, padahal penyebab sebenarnya ada di ketidaktrampilan kita dalam menata diri.

Bahkan semakin kita menghayati fenomena stres, semakin juga kita menyadari bahwa stres bukanlah sekadar fenomena pikiran saja, namun merupakan pengalaman lahir batin (mind-body experience).  Inilah yang menjadikan pengelolaan stres secara sehat menjadi landasan dasar untuk mencapai sehat sentosa.

OK, sekarang saatnya untuk berhenti membaca, dan merasakan nafas Anda saat ini, di tempat ini.  Cukup jauh kita merunut dari bagaimana mengasuh anak hingga tiba di suatu titik dimana Anda pun diajak bercermin tentang bagaimana Anda sendiri mengelola stres. Dari titik inilah akan terbentuk orangtua yang bahagia, hingga anak pun akan memetik keteladanan untuk berbahagia bagi hidupnya sendiri.

Pendekatan Menyeluruh untuk Mencapai Sehat Sentosa

Tubuh (fisik) dengan pikiran dan jiwa (psikis), merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan.  Ini sudah dijelaskan oleh tradisi penyembuhan alamiah yang sudah ada ribuan tahun lalu, dan sekarang semakin tervalidasi dengan perkembangan pengetahuan ilmiah saat ini.

Aspek kesehatan fisik pun menjadi relevan dalam penelusuran kita, karena hampir sebagian besar diantara kita pernah mengalami langsung atau melihat orang di lingkungan kita, yang setelah mengalami stres bertubi-tubi, tiba-tiba menjadi jatuh sakit.  Ini yang disebut “penyakit psikosomatis” dalam dunia medis.  Dalil sederhana untuk memahami  kedua hal ini bagaikan cermin, bahwa apa yang terjadi pada pikiran / jiwa akan tercermin dalam tubuh fisik, dan demikian pula sebaliknya.

Mulai dari sulit tidur, gangguan sistem saraf dan hormon, tekanan darah, kelelahan kronis, hingga nyeri otot, memiliki implikasi bagi di fisik maupun psikis.  Atau dengan kata lain, hampir semua ketidakselarasan yang dialami manusia memiliki eksistensi di fisik dan psikis.  Bahkan muncul juga istilah keterkaitan dalam model PNEI (psycho-neuro-endocrino-immuno), yang maksudnya bahwa ketidakselarasan pikiran dan jiwa (psycho) akan mencetuskan gangguan keseimbangan saraf (neuro), yang selanjutnya akan mengganggu fungsi hormonal (endocrino) dan akhirnya mempengaruhi daya tahan tubuh (immuno).

Jangan lupa bahwa anak tidak hanya belajar tentang hal-hal yang diucapkan oleh orangtua secara verbal, namun juga anak belajar berdasarkan apa yang dirasakan oleh orangtuanya, sehingga bagaimana pola orangtua mengatasi stres pun menjadi suatu pembelajaran bagi anak, meskipun lebih bersifat pembelajaran intuitif ketimbang analitis / intelektual. Ini semua sebenarnya menggiring kita pada kesadaran baru dalam merawat kesehatan lahir dan batin, atau apa yang dikenal sebagai kesehatan holistik.

Kesehatan Holistik Yang Perlu Disadari Bersama

Kesehatan holistik mengandung pengertian sehat tubuh (pola makan, istirahat dan olahraga yang tepat), sehat pikiran (alam pikiran yang mampu rileks, tenang, jernih), sehat jiwa (ikhlas, tentram dan pasrah) dan sehat energi (mengalir dan harmonis).  Semua komponen ini saling melengkapi dan menunjang.

Tanpa memelihara kesehatan diri secara holistik, maka segala hal yang sudah kita lakukan secara umum, seperti mengatur pola makan dan berolahraga, serta anjuran medis lainnya, akan menghasilkan solusi yang parsial dan tidak lengkap.

ASI dan Stres

Proses menyusui bukanlah semata mata proses antara ibu dan bayi saja. Bagaimana seorang ayah dan lingkungan yang mengelilingi ibu sangat menentukan keberhasilan menyusui. Bahkan proses memberikan ASI itu sendiri memiliki aspek psikologis dan ruhaniah antara ibu, bayi dan seorang ayah, bukan sekedar tempel dan biarkan bayi menyusu saja.

Ada beberapa jenis stres yang umum dialami oleh ibu menyusui.  Dari mulai kuatir akan kurangnya kuantitas produksi ASI, atau merasa kualitas ASInya tidak cukup baik untuk sang bayi, takut bentuk tubuh atau payudaranya berubah (faktor estetika), stres akibat perubahan pola / gaya hidup terutama bilamana menyusui anak pertama, takut terjangkit penyakit selama masa ASI eksklusif 6 bulan, stres karena merasa pemberian ASI kurang praktis bagi ibu yang bekerja, dan stres dari kurang tepatnya dukungan suami / sang ayah bagi kegiatan memberikan ASI sebagai makanan terbaik bagi bayi.

Semua stres ini akan secara otomatis mempengaruhi produksi hormon oksitosin yang tidak boleh dianggap remeh peranannya dalam produksi ASI yang berkualitas. Sayangnya, selama ini tidak semua orang memahami pentingnya mengelola stres, bahkan kita cuma tahu, “Kamu jangan stres!” dan malah menjadi semakin stres akibat solusi yang tidak menjangkau intinya.

Sains Baru Yang Memperluas Kesadaran Peran Orangtua

Sungguh kita hidup di zaman yang menarik. Sedikit demi sedikit, berbagai rahasia alam semakin dapat dipahami oleh berkembangnya sains.  Cukup banyak dasar ilmu pengetahuan serta akal sehat yang dahulu kita pelajari dari sistem pendidikan formal, yang sekarang menjadi kurang akurat setelah ditelaah ulang lewat berbagai sains baru, termasuk dalam bidang kesehatan lahir dan batin.

Contoh pertama, kode genetika yang tersimpan dalam inti sel manusia, atau biasanya disebut DNA, selama ini dikenal sebagai pangkal terbentuknya kesehatan dan bahkan karakter jiwa seseorang.  Pemahaman ini telah menjadi salah satu asumsi dasar ilmu medis, sehingga ketika seseorang mengalami penyakit tertentu yang diklasifikasikan sebagai penyakit karena keturunan (genetika), maka konsekuensinya kita cenderung menjadi “korban” dari rangkaian gen yang kita warisi dan ada ketidakberdayaan mental yang hadir karena kode DNA ini dianggap tetap, baku dan tidak bisa berubah.

Namun studi yang dilakukan oleh Bruce Lipton, PhD, seorang pakar biologi sel yang saat ini terkenal dengan karyanya “Biology of Belief”, menjelaskan bahwa asumsi dasar ini tidaklah benar.  Pertama, menurutnya kode DNA bukanlah pangkal kesehatan manusia, karena kode ini hanya bersifat sebagai saklar yang terpetakan dalam sel.  Kapan saklar tersebut teraktifkan atau tidak aktif, tergantung dari sinyal elektromagnet di sekitar dinding sel, yang bukan lain adalah berbagai pikiran dan perasaan kita.  Dampak dari temuan ini adalah kita tidak lagi bisa menyalahkan warisan genetika sebagai penyebab penyakit atau sifat buruk seseorang semata, namun juga harus menyadari pentingnya keselarasan tubuh, pikiran dan jiwa, atau dengan kata lain, kesehatan holistik.

Contoh kedua, biasanya kita cenderung memperhatikan potensi anak ketika masih berada dalam kandungan, dimana kebutuhan nutrisi, emosional dan keselarasan jiwa sang ibu diperhatikan lebih cermat. Percobaan ilmiah yang dilakukan oleh Dr. Cleve Backster bersama dengan US Army, justru menunjukkan fenomena yang begitu mencengangkan karena tidak bisa dijelaskan oleh sains konvensional.

Sebelumnya kita sudah mengetahui secara ilmiah bahwa emosi sangat mempengaruhi fungsi sel dalam tubuh manusia.  Pada tahun 1993, mereka menginvestigasi lebih lanjut apakah kekuatan emosi kita juga mempengaruhi sel hidup, terutama DNAnya, juga sel tersebut sudah berpisah dari tubuh.  Akal sehat mengatakan tentu saja emosi sudah tidak lagi mempengaruhi sel hidup yang terpisah.

Untuk studi ini, para periset mulai mengumpulkan DNA dari air liur para sukarelawan.  Sampel liur ini kemudian diisolir dan dipindah ke ruangan lain dalam gedung yang sama.  Dalam ruangan khusus tersebut, aktivitas listrik dari DNA diukur untuk menentukan apakah ada perubahan aktivitas DNA akibat perubahan emosi si pemilik air liur tersebut.  Sementara itu dalam ruang terpisah, sang donor DNA diperlihatkan serangkaian film yang dirancang untuk memicu berbagai emosi dalam tubuhnya, dari mulai film tentang perang, gambar erotis, hingga komedi.

Yang mengejutkan dalam hasil riset tersebut, meskipun tidak ada penjelasan ilmiah yang saat itu bisa menjelaskan koneksitas antara donor DNA dengan air liurnya sendiri, terjadi perubahan respons listrik pada DNA di ruang lain yang terjadi bertepatan dengan naik turunnya emosi donor DNA di ruang film.  Bahkan eksperimen ini sempat diulang lagi dengan jarak antara air liur dan pendonornya hingga 350 mil, dan hasilnya tetap sama.  Ketika si pendonor liur mengalami perubahan emosi, DNAnya yang secara fisik terpisah demikian jauh mengalami perubahan seketika, bagaikan masih berada dalam tubuh si pendonor.

Dari hasil ini, kita bisa melihat bahwa 2 sel hidup yang terpaut secara genetika, meskipun terpisah secara fisik sejauh ratusan mil, akan selalu berhubungan dan saling mempengaruhi dalam suatu dinamika, meskipun koneksitas tersebut hanya bisa dijelaskan oleh sains baru seperti fisika kuantum.

Bahkan jika kita ingat bahwa anak adalah hasil pertemuan genetika dari kedua orangnya, maka tidaklah terlalu sulit untuk berhipotesa bahwa keterkaitan genetika terjadi tidak saja dalam kandungan, namun juga dalam masa setelah anak dilahirkan, dan juga tidak hanya antara anak dengan ibu, namun juga dengan ayahnya.

Keterkaitan genetika yang muncul dari proses terbentuknya janin, serta juga asupan air susu ibu (ASI) yang senantiasa diberikan di masa awal tumbuh kembang anak ini tentu saja ini masih perlu ditelaah lebih jauh lagi, namun ilmu psikologi perkembangan cenderung mendukung peranan kedua orangtua dalam pertumbuhan jiwa anak yang sehat dan bahagia dalam masa setelah kelahiran.

Apapun temuan-temuan ilmiah selanjutnya, serta seberapa jauh ilmu fisika kuantum dan biologi kuantum terus berkembang, agaknya cukup masuk akal bagi kita untuk menelaah ulang asumsi yang selama ini sudah baku dalam dunia kedokteran dan psikologi, tentunya untuk mencapai pemahaman yang lebih lengkap tentang kehidupan dan alam.  Dalam tingkat yang paling praktis, minimal setiap orangtua hendaknya paham bahwa ada pengaruh dari bagaimana mereka mengelola diri dalam hidup, terhadap perkembangan sel, jiwa dan kebahagiaan anaknya, di setiap saat.

Teori Ilmiah Tentang Cinta

Beberapa profesor dari bidang psikiatri, Thomas Lewis, M.D., Fari Amini, M.D. dan Richard Lannon, M.D., dalam karyanya “General Theory of Love”, menjelaskan tentang bagaimana sistem otak dan saraf manusia belajar tentang cinta.

Sains tentang otak dan saraf menjelaskan tentang 3 tingkatan fungsi otak manusia.  Bagian pertama adalah otak reptil, yang berada di ujung atas dari saraf spinal dan berfungsi untuk memelihara diri dan bertahan hidup.  Termasuk dalam fungsi ini adalah pengaturan fungsi tubuh yang vital serta bentuk emosi dasar seperti rasa kuatir dan takut yang berkaitan dengan mekanisme kita dalam melindungi diri dan bertahan hidup.

Tingkatan otak kedua adalah sistem limbik, yang hanya dimiliki oleh mamalia (makhluk hidup yang menyusui) termasuk manusia.  Sistem limbik inipun kerap disebut sebagai “the emotional brain”, karena secara fungsional merekam dan memproses berbagai pengalaman rasa/emosi yang kita alami dalam hidup, terutama emosi yang lebih tinggi kompleksitasnya seperti bagaimana kita mengenal, merasakan dan mendefinisikan ekspresi rasa cinta.

Dan akhirnya tingkatan otak ketiga, yang mencakup sekitar 80% dari seluruh otak manusia adalah sistem neokorteks yang mengatur fungsi akal sehat, bahasa, kreativitas, berpikir, mempertimbangkan, dll.

Yang menarik adalah sistem ini tidak bisa berfungsi dengan optimal ketika tidak ada keselarasan dalam sistem limbik, atau dengan bahasa yang lebih mudah, tidak ada kejernihan berpikir atau kreativitas atau akal sehat, ketika perasaan hati / emosi kita sedang kacau.

Mungkin itulah sebabnya kita mendengar kearifan dari generasi terdahulu bahwa sebaiknya kita menenangkan hati terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan atau suatu langkah penting dalam hidup.  Barangkali sudah waktunya kita lebih memperhatikan wejangan-wejangan dari para tetua kita yang dahulu hidup lebih dekat dengan alam, apalagi dengan berbagai pembenaran ilmiah yang muncul tentang kearifan zaman dahulu seperti ini.

Studi yang dilakukan oleh Heartmath di Amerika juga menunjukkan bahwa keselarasan hati dan otak, juga memaksimalkan medan elektromagnetik yang terpancar dari jantung ke sekitar tubuh kita, dan pancaran medan elektromagnetik ini memunculkan perubahan aktivitas sel hidup baik dalam orang itu sendiri, maupun sel hidup di luar tubuhnya.  Ini terdeteksi lewat perubahan aktivitas DNA melalui suatu eksperimen ilmiah.  Dalam bahasa yang lebih lugas, ternyata bagaimana kita mengelola stres, dan memelihara keselarasan diri, ternyata juga berpengaruh terhadap aktivitas dan ekspresi sel hidup di sekitar kita, termasuk pada anak kita sendiri.  Dahulu ini sudah diketahui berdasarkan teori psikologis, namun melalui temuan ilmiah baru seperti ini, ternyata keterkaitan antar manusia juga terjadi secara emosional, elektromagnetik serta fisik (sel & DNA).

Resonansi Limbik Antara Anak dan Orangtua

Bayi memiliki kemampuan yang hebat dalam mendeteksi, merasakan dan mengekspresikan emosi, yang menjadikan mereka mengalokasikan perhatian yang besar pada ekspresi wajah orang disekitarnya.  Bahkan bayi yang baru berumur beberapa hari saja sudah bisa membedakan makna dari bermacam ekspresi wajah yang dilihatnya.

Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah bayi memiliki kemampuan telepatis dengan orangtuanya?  Sebagian riset memperkuat kemungkinan ini, sebagai studi menunjukkan bahwa gelombang otak anak dari usia 0 – 7 tahun, cenderung lambat di sekitar frekuensi delta / theta, atau sekitar 0.5 hingga 7 hertz, dan studi tentang otak menunjukkan memang gelombang otak lambat ini memang berhubungan dengan fungsi intuisi dan telepati.  Dari petunjuk ini, timbullah suatu kemungkinan bahwa anak, dari janin hingga 7 tahun, lebih banyak belajar bagaikan spons informasi yang menyerap segala hal di sekitarnya, ketimbang menyerap secara linier dan analitis.

Emosi adalah salah satu fungsi sosial yang terjadi pada makhluk hidup yang memiliki otak limbik.  Sama seperti penglihatan yang memberikan kita data dari pantulan cahaya elektromagnet, dan pendengaran yang memberikan kita data dari perubahan tekanan gelombang udara, maka merasakan emosi adalah suatu data tentang kondisi di dalam dirinya serta kondisi di dalam diri makhluk sekitarnya.

Bahkan kepekaan emosi ini juga berkembang menjadi kemampuan yang disebut resonansi limbik, yaitu pertukaran rasa dan adaptasi internal yang terjadi terus menerus antara 2 otak limbik, dimana kedua makhluk inipun menjadi semakin terpaut rasa.  Coba bayangkan ketika Anda menatap kedua mata dari orang yang begitu Anda cintai, pada saat yang sama sebenarnya sistem saraf dari orang tersebut dan Anda secara otomatis terpaut dan saling melakukan adaptasi dan pertukaran informasi, ditandai dengan serangkaian perasaan hati yang datang dan pergi.

Proses resonansi limbik ini juga terjadi antara anak dengan orangtua.  Setiap pengalaman orangtua, baik yang hanya dirasakan di dalam hati, maupun yang terucap, hingga yang terwujud dalam bentuk perilaku, adalah dinamika yang terekam sebagai bahan belajar bagi otak limbik sang anak.  Inilah alasan satu lagi, mengapa sangat penting bagi orangtua untuk tidak membengkalaikan penyelarasan dirinya sendiri, karena anak banyak belajar dari apa yang tidak terucap dan tidak terlihat dari orangtuanya, ketimbang dari yang sekadar terucap dan terlihat.

ASI, Genetika dan Cinta

Kalau demikian, apakah implikasinya terhadap kegiatan menyusui dengan ASI?  Kita sekarang bisa mulai mengintegrasikan berbagai aspek yang sudah dibahas sebelumnya secara lebih holistik.

Di satu sisi, ASI merupakan nutrisi yang terbaik bagi bayi.  Kita sudah membaca aspek nutrisi serta implikasi secara fisik dari pemberian ASI terhadap bayi dalam bab-bab sebelumnya.  Namun kita juga perlu ingat bahwa proses pemberian ASI tersebut pun memiliki dimensi psikologis dan spiritual yang begitu penting bagi masa depan anak.

Dalam proses menyusui dengan ASI, terjadi proses penyatuan yang alami dan sehat secara kejiwaan antara ibu dan anak.  Proses resonansi limbik terjadi, dan ketika memberikan ASI dilakukan dengan penuh cinta dan keikhlasan, maka data tersebutlah yang juga terekam dalam sistem saraf bayi, yang akan menyirami benih cinta dalam diri mereka sendiri.  Tanyakan kepada para psikolog, betapa banyak masalah kejiwaan dengan berbagai klasifikasi dan judul, yang sesungguhnya berhubungan dengan ketidakmampuan seseorang untuk mengenal dan mencintai dirinya sendiri.

Selain itu, sesuai dengan riset tentang genetika dan pola asuh, proses pemberian ASI yang dibarengi dengan kesadaran jiwa, keselarasan hati, serta cinta kasih, akan mempengaruhi ekspresi genetik yang ideal, sehingga menghasilkan kesehatan fisik yang optimal.

Bisakah sekarang Anda mulai melihat gambaran luasnya ketimbang gambaran sepotong saja?  Bagaikan melihat seluruh hutan, ketimbang hanya fokus pada 1 atau beberapa pohon saja?

Saya undang Anda untuk berhenti sejenak, bernafas dengan lembut, mengizinkan segala informasi yang baru saja Anda baca untuk direnungkan kembali.

Mengelola Stres dengan Mandiri, Sederhana, dan Efektif

Untuk dapat mengelola stres dengan baik, maka kita memerlukan latihan.  Tahap pertama yang mendasar adalah belajar untuk rileks.  Ingat bahwa beban dan ketegangan diri tidak pernah akan menolong situasi apapun.

Berbagai latihan yang bersifat merilekskan maupun menenangkan seperti bernafas dengan lembut dan teratur, meditasi, relaksasi progresif dan sebagainya, dapat membantu memulihkan kembali ketidakseimbangan saraf dan hormon, meningkatkan kekuatan sistem kekebalan tubuh, dan memberikan ketenangan dan kepasrahan yang alami.

Yang menarik adalah menurut pakar pendidikan Bpk Arief Rahman, kepasrahan saat menyusui dari seorang ibu merupakan perilaku seorang wanita yang tertinggi nilai keluhurannya sepanjang hidupnya.

Dengan berlatih mengembalikan keselarasan diri, termasuk dengan latihan nafas, gerak, sentuhan, pijatan serta keheningan dan kesadaran, kita bisa memelihara kesehatan lahir batin lebih alami.

Lalu dimana peran suami? Para suami/ayah mempunyai peran memberi dukungan, ketenangan bagi ibu yang sedang menyusui. Dalam praktek sehari-hari tampaknya peran ayah ini justru sangat menentukan keberhasilan menyusui (breastfeeding father). Inipun mencakup seberapa jauh ketrampilan masing-masing ayah maupun ibu dalam menata dirinya dalam mengelola stres.

Dengan melatih menata diri secara lahir batin, produksi ASI pun menjadi lebih lancar dengan kualitas yang semakin baik. Ingat bahwa ASI yang diproduksi ibu tidak lepas dari keselarasan pikiran dan jiwa dari kedua orangtua bayi, sehingga melalui ASI, pikiran dan jiwa bayipun ditumbuhkembangkan agar menjadi karakter yang kuat, cerdas dan bijaksana.

Bayi Bahagia dimulai dari Orangtua Yang Bahagia

Sekarang saatnya untuk melihat apakah mungkin kita dapat menyimpulkan pemahaman yang sederhana dan aplikatif dari penjabaran sebelumnya.

Pertama saya mengusulkan agar kita mulai menyadari bahwa “Bayi Bahagia sebenarnya dimulai dari Orangtua yang Bahagia”, dan menindaklanjuti kesadaran tersebut untuk mulai bercermin pada diri sendiri, ketimbang meletakkan 100% perhatian hanya anak, sehingga diri terbengkalai.

Kedua, setelah kita lebih sadar pada diri, mulai belajar untuk secara sederhana dan efektif merawat keselarasan diri seutuhnya, secara lahir batin agar hidup semakin sehat sentosa.  Ini bisa dimulai dengan belajar untuk rileks, berlatih diri untuk meluangkan saat hening setiap hari, mulai membiasakan pola komunikasi yang semakin jujur dan tulus, serta mempelajari ketrampilan untuk mengolah emosi hingga mampu mencairkan segala ketegangan menjadi kondisi yang tenteram dan ikhlas.

Ketiga, hayatilah proses menyusui sebagai suatu bentuk keluhuran yang tidak bisa tergantikan dalam fase tumbuh kembang anak.  ASI tidak hanya penting karena nutrisinya, namun menjadi kondisi dasar untuk membentuk anak yang penuh cinta dan sukacita.  Lakukan proses menyusui dengan kesadaran penuh terhadap pertukaran rasa dan kasih sayang, ingatlah bahwa ini adalah investasi lahir batin yang tidak akan pernah bisa tergantikan, terutama karena memang merupakan perwujudan naluri cinta ibu.

Keempat, bagi kedua orangtua, terutama ayah, sadari bahwa anak sangatlah terbuka menyerap bagaimana kedua orangtuanya merasakan dan mengalami stres, serta menghayati dan mengekspresikan cinta.  Itu sebabnya, teruslah sirami keharmonisan hubungan rumah tangga, komunikasikan diri selalu dengan jujur dan tulus, dibarengi dengan suasana spiritualitas yang tercukupi sebagai landasan bagi para jiwa untuk bertumbuh dalam keluarga tersebut.

Terakhir, saya mengajak Anda untuk menjadi konsumen yang aktif mengedukasi diri sendiri.  Jangan cenderung percaya atau tidak percaya pada sumber informasi tertentu saja.  Terbukalah akan berbagai informasi yang bermanfaat untuk hidup Anda, namun ingat juga bahwa para ahli, baik di bidang medis, psikologis maupun penyembuhan alamiah, tidak akan pernah lebih mengenal diri Anda sebaik Anda mengenal diri Anda sendiri.  Dengarkan kata hati, hiduplah selaras dengan alam, dan ini akan menjadi teladan serta bekal terbaik yang bisa Anda wariskan untuk anak Anda.

Referensi:

  • Simonton, O. Carl, Stephanie Matthews-Simonton, & James L. Creighton.  “Getting Well Again”, Bantam Books, USA, 1978.
  • Lewis, Thomas, Fari Amini, & Richard Lannon.  “A General Theory of Love”, Vintage Books, USA, 2000.
  • Lipton, Bruce.  “The Biology of Belief”, Mountain of Love / Elite Books, USA, 2005.
  • Braden, Gregg.  “The Divine Matrix – Bridging Time, Space, Miracles and Belief”,  Hayhouse, USA, 2007.

Text

11 April 2013

Pertanyaan umum buat penganti baru, apalagi kalo bukan “udah isi belum?” Kadang bosan juga dengar pertanyaan begitu. Memang sih, salah satu tujuan menikah itu untuk meneruskan keturunan. Tapi aku percaya, setiap pasangan punya “waktunya sendiri” untuk mendapat nikmat keturunan.

Sejujurnya, sekarang-sekarang ini aku masi belum siap hamil dan masih sangat menikmati saat-saat berduaan dengan suami. Belum lg, masi mau “mencari jati diri karir” yg tepat dan menyembuhkan si dermatitis atopic yg masi membandel. 

Maunya, pas hamil nanti, memang udah bener2 siap lahir batin. Anak itu tanggung jawab besar, “kontrak kerja” dari Tuhan seumur hidup. I wanna be the best mommie for my future kids. Now i wanna prepare me with info on good parenting and all that. And speaking of which, i found this inspiring article today. 

Anak-Anak Karbitan ~ Early ripe, early rot!


Oleh Dewi Utama Faizah,
bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas,
Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesian Heritage Foundation.


Anak-anak yang Digegas Menjadi Cepat Mekar, Cepat Matang, Cepat Layu…

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua …

Captive market! Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di internet dan literatur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidak-patutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak-tahuannya!


Anak-Anak Yang Digegas…

Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidak-patutan terhadap anak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam dan di luar sekolah.

Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya dibidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber seorang wartawan terkemuka pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, dimana seorang Ibu yang bemama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya, sejak si anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan mcnggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca Ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun ia membaca enam buah buku dan koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 tahun ia menjadi guru matematika di Michigan State University. Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.

Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya Einstein yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun.

Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kognitif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan “Early Childhood Training“. Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang memfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidak-seimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang dimana-mana, di Indonesia.


“Early Ripe, Early Rot…!”

Gejala ketidak-patutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990 di Amerika. Saat orangtua dan para profesional merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan “peluang emas” bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak-kanak (Pra Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.

Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah “Era Headstart” merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.

Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner, seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal “The Process of Education” pada tahun 1990, la menyatakan bahwa kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika . “We begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any stage of development“. Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang disalah-artikan oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk… early ripe, early rot!

Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.

Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep “kesiapan-readiness” dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang “biological limitations on learning‘. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan rangsangan intelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.

Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak-anak menjadi “miniatur orang dewasa “. Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media begitu merangsang keingin-tahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa, sebagai seksual promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.

Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa. Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnva saat perilaku anak menampilkan gaya “kedewasaan “, sementara perasaannya menangis berteriak sebagai “anak”.

Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak laki-laki “Heintje” di era tahun 70-an… I’m nobody’s Child;

I’m nobody’s child; I’m nobody’s child;
I’m nobodys child; Just like a flower; I’m growing wild;
No mummy’s kisses and no daddy’s smile;
Nobody’s touched me; I’m nobody’s child …

Dampak berikutnya terjadi … ketika anak memasuki usia remaja. Akibat negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka tidak segan segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut. Patricia O’Brien menamakannya sebagai “The Shrinking of Childhood“.

“Lu belum tahu ya… bahwa gue telah melakukan segalanya”, begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. “Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks ” serunya bangga.

Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar…. kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, … sebuah proses dalam kehidupannya !

Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga “baby sitter” sebagai pengasuh anak-anaknva. Colette Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai “Cinderella Syndrome” yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi menghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.

Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai les, dan mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu. Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan diri mereka kepada baby-sitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka. Tidak jarang para baby-sitter ini mengikuti pendidikan parenting di Lembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.


Era SUPERKIDS

Kecenderungan orangtua menjadikan anaknya “be special” daripada “be average or normal” semakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi “to excel, to be the best“. Sebetulnya tidak ada yang salah. Namun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang, basket, balet, tari balet, piano, biola, melukis, dan banyak lagi lainnya… maka lahirlah anak-anak super—”SUPERKIDS’ “. Cost merawat anak Superkids ini sangat mahal.

Era Superkids berorientasi kepada “Competent Child“. Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya “earlier is better“. Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Postman seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah… ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan!
Berbagai Gaya Orang Tua

Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan “miseducation” terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:

Gourmet Parents — (ORTU B0RJU)
Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka “Superkids” merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua.

Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknva baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua “gourmet ” atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.

College Degree Parents — (ORTU INTELEK)
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding, dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka “Superkids“, apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.

Gold Medal Parents — (ORTU SELEBRITIS)
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompctisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia. Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan merijadi “seorang Bintang Sejati “. Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi “Sang Juara”, mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga None Abang Cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.

Sebagai ilustrasi, dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya Lomba Pakaian Adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta . Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar, mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan keluar sebagai pemenang sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas.

Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok Gold Medal Parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK mengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus “bintang cilik” Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya, kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold Medal Parents menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!

Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik “Joshua” yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya. Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang “Superkid” — seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film….

Do-it Yourself Parents
Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya “Superkids” — earlier is better“. Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.

Outward Bound Parents — (ORTU PARANOID)
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep “Superkids” Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya “Karate, Yudo, Pencak Silat” sejak dini. Ketidak-patutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi “steril” dengan lingkungannya.

Prodigy Parents –(ORTU INSTANT)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, narnun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.

Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang “Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Membaca” karangan Glenn Doman , atau “Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika” karangan Siegfried, “Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang” karangan Therese Engelmann, dan “Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 9 Hari” karangan Sidney Ledson .

Encounter Group Parents — (ORTU NGERUMPI)
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang-lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya. Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidak-patutan dalam mendidik anak-anak dengan berbagai perilaku “gang ngrumpi” yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai “Superkids” juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.

Milk and Cookies Parents —(ORTU IDEAL)
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan.

Kelompok ini tidak berpeluang menjadi orangtua yang melakukan “miseducation” dalam merawat dan mengasuh anak-anaknva. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua.

Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang menyenangkan. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar. Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya.

Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan didirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik!

“Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada kenangan indah terutama kenangan manis di masa kanak-kanak. Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersimpan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan kita”
(destoyevsky’ s brothers karamoz)
Perspektif Sekolah Yang Mengkarbit Anak

Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah “Industri” dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk. Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai “operator kurikulum” dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah. Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi “pengabar isi buku pelajaran” ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan “mesin-mesin dalam menskor” capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan mata pelajaran.

Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak. Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata.

Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah… dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk…. Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif.

Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan “pedagogy of the oppressed” terhadap anak-anak didiknya. Dimana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran (Freire, 1993). Model pembelajaran banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah dan persaingan ranking wilayah….


Mengkompetensi Anak — merupakan ” KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN ?”

Anak adalah anugrah Tuhan… sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang bertanggung-jawab. “(Nature versus Nurture) bagaimana?” Karenanya ada dua pengertian kompetensi. Kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendiri. Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.

Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut : “Give me a dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and I’ll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select — doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of his talents, penchants, tendencies, vocations, and race of his ancestors ”

Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan “intervensi dini” setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada tahun 1979. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur “Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill)” dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolumnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut : “The improvement in those areas were not the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were… simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Jersey”

Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas rendah, semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-kompetensi perolehan pengetahuan hanya secara kognitif.

Oleh karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif, fisik dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja! Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus merawat minat dan keingin-tahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingin-tahuan – “curiosity” inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita. Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan! “Empty Sacks will never stand upright” — George Eliot

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, fisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan fisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari “karakter”. Dimana mereka mendidik anak menjadi “good and smart“, terang hati dan pikiran

Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan “how learn to learn” pada anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.

Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya berjam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison mengatakan bahwa “Genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration “. Semangat belajar “encourage” tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar. Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka sebagai anak.

Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan “moral literacy” melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr ). lnilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik….
Penutup

Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang hati dan terang pikiran “good and smart” merupakan tugas kita bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua. Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidak-seimbangan yang cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.

Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi “SUPERKIDS“. Inilah fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era anak-anak karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan.

Text

Hampir 6 bulan aku jd Ny.Wisnu. Rasanya..ahh macem2..tp yang pasti banyak senengnya..

Some say it’s a honeymoon euphoria, i don’t care. What i feel is real. I am so much blessed to have him as a dear husband. 

Wisnu seperti wujud hidup dari mimpi-mimpi dan harapan-harapanku tentang suami.

Dia penuh cinta dan bertanggungjawab.

Dia pandai mengatur keuangan.

Dia taat beribadah.

Dia hangat dan dekat dengan keluarga.

Dia suka travelling dan olahraga.

Dia anak rumahan.

Dia apik, rajin beberes, dan gesit.

Dia orang yang praktis dan solution-oriented.

He is both a great  leader and a team player.

He is the best answer to my prayers…

Tentu ada sederet kekurangannya tapi ahh rasanya itu tidak ada apa-apanya dengan segala kelebihan yang dia punya.

Semoga apa yang aku rasakan dan katakan saat ini akan tetap sama, satu, sepuluh, atau lima puluh tahun kemudian.

Yes, i am so ready and happy to grow old with you, Wisnu Prihatyo :)

image

Text

There is this famous sayings ” Boys will always be boys” .Well, in my opinion hell yeah that’s true, they don’t have boobs n wombs the two most “resourceful organs”..hehehe plus it got me thinking, if boys will always be boys, what are their toys?

Hobby. Yes, that is boys’ toys. 

Have ever thought of separating the two? Please don’t try. Be it automotive, books, movies, sport, adventure, music, games etc. They always have one.

What will u get if u try to take away boys’ favorite toys? they will go nuts n upset. Same thing also applies when u try to stop your man from doing their hobby.

It happens to be such contradictory feelings sometimes. U know that letting them doing what they like would make them happy, but your ego somehow whisper u something like this “Oh so, doing sport is more important than me?”

But then something came across my mind.

 ”Have we, girls, turned our boys into our toys? so we get sad n upset whenever they are out of our sight?”

If they wanna have fun n enjoy their hobby,why not?

A relationship should not be a “prison”. It ain’t fun anymore if it is so.

As long as they know their priorities n remain faithful, there is no reason to stop them from doing what they like and being happy.

Well, in the end, isn’t that what love is all about?

to let the people we love the most be happiest 

and to swallow my ego for once in a while is just a tiny bitty sacrifice i should be willing to do for the man i’m about to spend my whole life with :)

Text

Comfort Zone.

Apa sih comfort zone buat aku?

Punya gaji cukup untuk hidup nyaman, bisa pulang cepet, ada waktu buat ngegym dan memanjakan diri. Itu surga banget buat aku.

Punya pacar baik yg sesuai impian, yg bisa jd sahabat sekaligus kakak yg baik. Ahh, it’s like living a life of my dream.

Pernikahan sedikit banyak akan mengusik zona nyamanku. Aku tau itu. Berangkat dan pulang kantor nggak lagi senyaman saat ini. Status suami istri di satu sisi memang lebih menyamankan tp menyatukan dua insan yg berbeda pastinya memasuki zona yg lebih rawan konflik.

Awalnya aku sedih, kesal, bingung dan marah. Kenapa untuk satu mimpi yg terwujud, aku harus melepas zona nyaman indah yg kubangun selama ini.

Tapi, lama-lama aku mengerti. Ini proses keluar dari zona nyamanku, berjuang, membuat mimpi baru dan menciptakan zona nyaman yg berbeda di tahap hidup berikutnya.

Ketidakpastian itu seringkali menakutkan. Perubahan itu seringkali mengundang frustasi. Tapi, kalau hidup nggak pernah kenal bumbu takut dan frustasi, rasa manis nya hidup jd terasa hambar bukan?

Keluar dari zona nyaman, aku siap :)

Text

“Life is an opportunity, benefit from it.

Life is beauty,admire it.

Life is a dream, realize it.

Life is a challenge,meet it.

Life is a duty, complete it.

Life is a game, play it.

Life is a promise, fulfill it.

Life is sorrow, overcome it.

Life is a song, sing it.

Life is a struggle, accept it.

Life is a tragedy, confront it.

Life is an adventure, dare it.

Life is luck, make it.

Life is too precious, do not destroy it.

Life is life, fight for it.”

— Mother Teresa —- 

Text

22 Mei 2012

Juni, Juli, Agustus, dan tadaa..my big day is coming soon!!

Have i turned into a bridezilla? Well, sometimes i think i have. 

Contohnya, waktu pilih2 kebaya kemarin. OMG, penuh banget sih Kebaya Belva itu. Teh Yuyun emang laris pisan, bikin janji itu udah dari jauh hari eh tetep aja banyak org lain yg dtg di saat yg bersamaan.

Kebaya Belva itu cantik2, tp cantik di manekin belum tentu cantik jg di badan kita. Belum lg masalah warna. Aku bukan pecinta warna soft, gelap atau warna2 redup lainnya. Kebetulan calonku jg sama, we both like bright and bold colors haha..! Menurutku, justru untuk org berkulit sawo matang, pakailah warna yg tegas dan berani. Warna2 yg setengah2, atau soft jutsru bikin org kulit sawo matang tampak kusam dan nggak “shining”. Tentu aja, warna bold nya juga kira2, bukan kuning spotlight atau oranye bajaj yah..hehee

Aku udah punya pilihan calon warna2 idaman : red-gold atau tosca-gold. Tp dari 3 kebaya yg aku coba kemarin, belum ada yg sregg..si tosca keseksian (malah kaya penari ketimbang princess) dan si merah kepenuhan detail (badanku jd tampak ndudd, apalagi bersanding sama wisnu yg badannya tipiss heuheuu). Belum lg Teh Yuyun minta aku nurunin 3 Kg (PR bangeet inii). Well, I want to look sooo beautiful like a princess on my wedding day, and i am willing to do anything to make it happen. Selama dalam batas kewajaran tentunya.

Ideku selanjutnya adalah taking dance or aerobic classes. Selain melangsingkan juga bikin happy. Yah, aku perlu lebih pasokan hormon endorphin. Lagipula udah mulai bosen lari2an di treadmill kantor. I need to get out of my routine. Move my ass a little bit more n pump up the spirit!

No more bridezilla please..hihihi >:) 

Text

09 May 2012

Mendekati hari H itu, makin banyak yg komentar dan tanya ini itu. Mulai dari nanya persiapan udah sampe dimana (yg aku udah mulai bosen menjawabnya), bertanya perkembangan hubungan (like they really care..), sampe mengingatkan bahwa pernikahan itu ga selamanya seindah khayalan kita.

OK, not that i don’t like all the attention. I do love and appreciate it. It’s just when things get a bit too intense, it gets annoying. 

First of all, i am 26 not 16. 

I know Cinderella Story is a fiction, not a true story. 

Secondly, my current relationship with him is as real as it can be. 

Nothing seems too good to be true.

Dia bukan pria tampan kaya raya yg super romantis, super perhatian, raja gombal, atau mr so sweet.

Dia juga nggak punya hobi merangkai puisi, mencipta lagu, atau membanjiriku dengan hadiah.

Dia hanya pria biasa yang bersamanya aku merasa nyaman, bahagia dan yakin bahwa bersamanya masa depan kami akan baik2 saja.

Aku jatuh cinta pada karakternya yang kuat, mandiri dan sederhana. 

Jatuh hati pada kecerdasannya, kecepatannya berpikir, kemampuannya merencanakan masa depan, ketelitiannya untuk hal-hal kecil. 

He simply completes me. 

A marriage is not a fairy tale. I know. I never expect so.

It’s a place to share,to learn, to grow, to laugh, to cry, to evolve together

Terserah orang mau bilang apa. Aku dan dia—kami punya cara sendiri menghadapi apa yang akan terjadi di hari nanti.

Mungkin saat ini aku masih punya banyak kekurangan, begitu pun dia.

Kadang aku masih mempermasalahkan soal sepele dan gampang ngambek, kadang dia masih cuek dan kurang peka. Kami masih suka berantem dan belum sepenuhnya saling mengerti. 

But hey, it is all a process toward a better direction…

to understand each other better, to find out what works best for both of us.

Painful as it is, yet sweet as it can be. 

Last but not least,  for anyone who still doubt me, make sure i invite you on my 50th wedding anniversary in 2062 :)

Text

Got it from Parenting.com website, kind of useful too—someday when i have my own kiddos!

21 ways to enjoy being a mom

1. When you’re tired, hand your kids a brush, point to your head, and tell them to play beauty parlor. When you’re really tired, pretend that you’re Sleeping Beauty.

2. Take your mother to a spa. While you’re both getting seaweed wraps, tell her all your favorite memories of growing up.

3. Take a bath with your infant. Make sure your husband is around for the handoff, so you can relax until the last minute. (Don’t forget to smell your baby right afterward. Heaven!)

4. At the end of every summer, take a family photo for the holiday card (you’ll be happy to have this accomplished once December comes). Every year, add a framed 11-by-14-inch print to your front hall. Your kids will be proud now and laugh later at the funny styles.

5. On St. Patrick’s Day, dye the milk and eggs green and turn the furniture upside down so your home looks like total chaos. When your little ones wake up, tell them that the leprechauns came.

6.The next time you have to go to a boring kiddie activity, invite another mom-friend along. Hide wine in sippy cups for the two of you to nurse undercover.

7.Play Freaky Friday with your husband and switch roles for a day. Enjoy his renewed appreciation for his Super Mom wife.

8.In the dead of winter, fix some snacks, get under warm quilts, and watch Happy Feet on DVD. Tell your kids you love them even more than the penguins love their chicks.

9.Go to the beach in the off-season. Throw rocks in the water and collect shells. Put them in a vase and use it as shelf decor in your living room.

10.Skip the Raffi and Barney. Turn your kids on to Bob Marley, They Might Be Giants, and Gwen Stefani.

11.Take your baby out to the movies at night. (Infants love the dark, and loud trailers make them snooze immediately.) Then you can sip your soda and munch your popcorn in peace.

12. Buy yourself that fancy watch, strand of pearls, or whatever piece of expensive jewelry you’ve been lusting after. Justify your purchase by rationalizing that you’ll pass it down to your daughter (or son’s wife) eventually.

13. Take your kids to live music performances from very early ages. Cheap ones outdoors are great to start with in case you need to make a hasty exit (like when a diaper explodes).

14. Use your kids as an excuse to do the things you want to do, like going to silly feel-good movies, eating mac and cheese for dinner, and jumping in the moonbounce. Use your kids as an excuse to get out of things you don’t want to do, like going to a wedding or office party.

15. Every Mother’s Day, have a picture taken with your kids. Keep the photos all together - along with special cards, ticket stubs, mementos, and anything else that makes you feel good about being a mom - in a shoe box. (Of course, you must get those new shoes you love in order to do this correctly.) Every year, look through your Goddess Mom box and see how much your kids have grown.

16. Give your kids quiet time every day. Let them learn to be by themselves with books, crayons, or blocks.

17. Let your whole family take a day off and hang out in pj’s all day long.

18. Rent Sex and the City on DVD, and reminisce about the days when you were single and the biggest problem you had was whether the “He” of the moment was going to call. Let the romance of your youth seduce you. Then remember that, despite your freedom, all you really wanted was to fall in love and have beautiful babies.

19. Pitch a tent in the backyard. Use it as your outdoor reading room. Or when there’s a full moon, plan a family campout with sleeping bags, a transistor radio, and s’mores, of course.

20.Invent a house fairy. Give her a name, and tell your kids that she is always watching them and counting up their good deeds.

21. Listen for the deep, happy sighs that come after your kids play or laugh really hard. Tuck them away in your heart.